Ngobrol Bisnis: Nasib UMKM di Era New Normal yang Abnormal

Diposting pada

Lazimnya ngobrol itu dilakukan minimal berdua karena bakal ada interaksi satu sama lain, kalau ngobrol “sorangan” mah disebutna “nugelo” haha. Kali ini saya mau sedikit curhatlah ketemen-temen pengunjung blog ini mengenai gaya hidup baru masyarakat dunia termasuk di Indonesia lantaran ada wabah covid-19 yang katanya gak bakalan hilang dari muka bumi.

Gaya Hidup Baru Bernama New Normal

Ya, WHO baru-baru ini mengatakan Corona atau Covid-19 gak bakalan hilang dari muka bumi karena mereka gak bisa memprediksikan kapan vaksin yang ampuh akan tersedia. Beberapa pakar mengatakan virus corona ini memiliki karakteristik berbeda disetiap negaranya.

kondisi new normal di Jepang

Jadi belum tentu vaksin yang tersedia di negara Amerika bisa berhasil diterapkan dinegara kita. Tapi entahlah karena saya bukan pakarnya jadi saya gak bakal bahas terlalu dalam mengenai Corona Covid-19. Justru yang menarik bagi saya adalah bagaimana mepersiapkan masyarakat kita dalam rangka “Berdampingan” dengan Corona setiap harinya.

Dunia termasuk Indonesia secara perlahan tapi pasti akan menerapkan gaya hidup baru (new lifestyle) yang disebut dengan New Normal. Bagi saya New Normal adalah gaya hidup yang Abnornal atau tidak normal dimasa lalu namun sekarang dipaksa menjadi normal.

Di berita terbaru di China sana masyarakat sudah mulai diperbolehkan beraktifitas biasa dengan syarat wajib menerapkan protokol covid-19. Bahkan ada aturan baru ketika ke wahana hiburan pengunjung wajib mentaati aturan yang ketat, sebagai contoh tidak boleh teriak ketika menaiki wahana sekalipun lagi seru-serunya. Mungkin takut air liurnya “muncrat” dan menyebarkan Corona kali ya? ANEH.

Mungkin gaya hidup baru New Normal di Jepang atau Korea Selatan tidaklah sulit diterapkan mengingat tingkat kedisiplinan mereka jauh lebih baik diatas kita. Mereka lebih “aware” terhadap hal-hal kecil apalagi yang menyangkut dengan kesehatan dirinya dan orang banyak.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawab. Jangankan PSBB, sekedar menggunakan masker saja masyarakat kita masih banyak yang mengabaikannya.

Sementara perekonomian, Sekolah, Kegiatan Keagaman dan lain sebagainya harus tetap berjalan. Dengan gaya hidup baru ini masyarakat hanya perlu menerapkan hal-hal sederhana saja seperti wajib menggunakan masker setiap kali keluar, rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dengan yang lain, keluar jika ada kepentingan saja dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan Bisnis UMKM di Era New Normal?

Masuk kepokok bahasan ya. Bisnis UMKM adalah jantungnya perekonomian rakyat Indonesia, kalau bisnis berbasis UMKM ini tidak berjalan NORMAL di era yang Abnormal ini (New Normal) maka perekonomian akan semakin sulit dengan dampak yang terasa di masayarakat bawah.

Gak perlu bahas terlalu jauh hingga ke perekonomian sebuah negara, kita ambil contoh saja disekitar kita.

Jika new normal ini sudah diterapkan di Indonesia kemudian masyarakat dituntut untuk selalu berhati-hati terhadap corona sehingga pergerakan individu mau tidak mau akan menjadi terbatas.

Mereka akan mulai berpikir ulang ketika hendak berbelanja baju ke toko atau pasar swalayan sementara ada yang lebih aman berbelanja menurut mereka yaitu berbelanja secara online di marketplace yang menyediakan lebih banyak pilihan beribu kali lipat banyaknya dibanding pasar tradisional.

Maka merekapun memutuskan untuk berbelanja secara online, kita lihat saja saat ini masyarakat kita sudah mulai melek internet dengan berbelanja online. Para pegawai jasa pengiriman paket kerap lalu-lalang dihadapan kita, bahkan selalu saja mampir di rumah tetangga kita untuk memberikan paket belanjaannya. Dan itu bikin kita iri sehingga gak mau kalah dari tetangga yang akhirnya kitapun ikut-ikutan berbelanja online hehe.

Gaya hidup belanja online ini sebenarnya sudah mulai berjalan masif sejak beberapa tahun kebelakang sebelum wabah corona ada. Bahkan dampaknya banyak ritel besar yang tutup serta toko-toko di mall yang juga gulung tikar lantaran jumlah pembeli yang kian menyusut.

Apalagi jika gaya hidup NEW NORMAL ini menjadi gaya hidup kita nantinya ketika kita gak bisa lagi leluasa pergi kepasar atau ke mall.

New Normal Eranya Work From Home

Menurut saya gaya hidup baru bernama New Normal ini akan membuat “Work From Home” akan semakin populer dimasa-masa yang akan datang. Apalagi kerja dari rumah dianggap lebih hemat biaya.

Sebagai contoh saya punya teman yang memiliki bisnis fashion yang cukup terkenal di Indonesia. Dia punya karyawan yang dia sendiri gak mau menyebutnya sebagai karyawan melainkan partner kerja dengan jumlahnya hingga ratusan orang.

Bayangkan karyawan ratusan orang jika dikumpulkan dalam sebuah gedung pasti akan penuh dan membutuhkan gedung yang cukup besar. Sementara membuat gedung butuh biaya besar sekalipun hanya sewa tempatnya saja.

Karena dia seorang pembisnis yang faham akan pentingnya peran internet maka dia memanfaatkan internet sebagai tempat kerjanya baik untuk meeting maupun proses pemasaran.

Alhasil seluruh karyawannya bisa bekerja dirumah dengan tetap diberikan pelatihan pemasaran secara online yang ampuh. Maka tak heran setiap hari ratusan hingga ribuan produk fashion dikirim ke konsumennya diseluruh Indonesia bahkan hingga mancanegara.

Solusi Bisnis UMKM dimasa New Normal

Maka tak lain solusi bisnis untuk UMKM dimasa New Normal ini adalah UPGRADE SKILL DIGITALISASI BISNIS. Mungkin saat ini temen-temen masih menutup mata mengenai pentingnya digitalisasi bisnis karena tengah menikmati tokonya ramai oleh pengunjung. Tapi tunggulah hingga beberapa waktu kedepan.

Jika tidak mempersiapkan skill online dari sekarang maka bukan tidak mungkin toko temen-temen akan kalah saing dengan toko-toko yang sudah “ngelapak” secara online.

Perhatikan orang-orang yang dekat dengan toko anda, berapa kali dia berbelanja ke toko anda atau jangan-jangan tiap hari ada saja kurir ekspedisi menghampiri rumahnya untuk mengantarkan “jajanannya”. Lambat laun hal itu akan mulai berlaku untuk langganan-langganan anda yang lainnya dimasa yang akan datang.

Peran Pemerintah untuk UMKM Kedepan

Saya yang tinggal dikampung kerap memperhatikan pelaku bisnis UMKM yang tidak berkembang lantaran kurangnya peminat pada produk dagangannya. Saya pikir jika produk dagangan dijual disitu-situ saja maka akan sulit mendapat pembeli, apalagi produk dagangan tersebut bukanlah kebutuhan pokok karena berupa produk kerajinan. Solusinya adalah dagangkan keseluruh Indonesia bahkan dunia.

Sayangnya sejauh ini di tempat saya berada peran pemerintah dalam meningkatkan skill pemasaran pelaku UMKM masih kurang maksimal. Pelatihan digitalisasi bisnis UMKM hanya sebatas pemberian teori dasar yang singkat dan “tidak hatam”.

Sementara ilmu digitalisasi bisnis ini tidak boleh setengah-setengah. Sebagai contoh para petugas hanya memberikan solusi pemasaran menggunakan sosial media seperti facebook atau menggunakan situs toko online saja.

Padahal menjual dagangan menggunakan facebook tidaklah sesederhana yang dikatakan, ada banyak ilmu facebook yang harus dipraktekan dengan teknik-teknik tersembunyi yang orang awam pasti tidak akan tahu.

Saya sendiri pernah belajar menggunakan facebook untuk kegiatan bisnis dengan biaya kursus hingga Rp.4 jutaan dalam 2 hari pertemuan saja. Sementara untuk saat ini untuk belajar facebook ke ahlinya membutuhkan biaya hingga Rp.10 jutaan bahkan lebih.

Saya punya teman yang expert didunia facebook, dia mampu menjual produk kaos desainnya keseluruh Amerika dan Eropa dengan keuntungan bersih hingga Rp.2 Milyar dalam beberapa hari saja.

Dia hanya membuatkan desainnya saja kemudian proses produksi kaos dan pengiriman dilakukan perusahaan di Amerika. Tugasnya dia hanya memasarkan desain gambar sablon yang dia buat saja, ketika ada yang beli maka kaos akan diproduksi dan dikirim ke konsumen. Menariknya perusahaan besar di Amerika tersebut sampai kewalahan lantaran jumlah pemesan kaos melalui dia sangatlah banyak hingga pabrik harus stop dulu menerima pesanan kaos baru.

Ilmu facebooknya yang “ampuh” membuat dia dihormati di Amerika, padahal selama ini dia hanya kerja dari rumahnya di Indonesia (work from home).

Jadi jika pemerintah niat benar meningkatkan kemampuan digitalisasi bisnis para UMKM maka orang-orang seperti teman sayalah yang perlu dijadikan mentornya atau minimal memiliki keahlian yang sudah teruji dibidang tersebut.

Saya sendiri memiliki banyak teman yang expert dibidang digitalisasi bisnis ini, misal teman yang ahli dibidang Facebook, ada juga yang ahli dibidang marketplace dengan kemampuan menjual hingga ribuan produk perhari hanya mengandalkan marketplace, ada juga yang ahli dibidang instagram dan lain sebagainya.

Jadi mulailah serius untuk Upgrade Skill Digitalisasi Bisnis para pelaku bisnis UMKM dari sekarang agar kita bisa eksis terus dimasa yang akan datang.

Salam saya.
Deni Andrian.

Gambar Gravatar
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”