Teknologi Garis Gawang Untuk Sepakbola Indonesia

Teknologi Garis Gawang Untuk Sepakbola Indonesia

Teknologi Garis Gawang – Banyak sekali insiden yang berujung ricuh di sepakbola Indonesia lantaran permasalahan bola apakah sudah masuk atau belum. Satu pihak ngotot bola sudah masuk melewati garis gawang sementara satu pihak lagi yakin bola belum masuk dan tidak terjadi gol.

Teknologi Garis Gawang Untuk Sepakbola Indonesia
Teknologi Garis Gawnag

Kalau di sepakbola Indonesia sudah pasti terjadi ricuh yang bisa berakibat adu jotos atau aksi walkout dari pertandingan. Sementara kalau di luar negeri paling protes sedikit saja, tapi bukan berarti kejadian ini tidaklah penting ya.

Nyatanya kejadian ini sudah sering dipentas sepakbola manapun sekalipun di kompetisi dunia. Makanya FIFA memberikan perhatian khusus atas hal ini sehingga dalam perkembangannya teknologi garis gawang memang sangat duperlukan.

FIFA sendiri sudah melakukan pengembangan akan teknologi garis gawang ini atau Goal Line Technology (GLT). Dengan bantuan alat elektronik mampu mendeteksi apakah bola sudah melewati garis gawang dan gol atau belum apalagi dibantu dengan kamera berkecepatan tinggi sehingga semakin jelas dalam Reflay.

Salah satu kejadian yang tidak mengenakan dialami oleh tim Inggris di Piala Dunia 2010 silam dimana Inggris sudah tertinggal 1-2 atas Jerman. Namun Frank Lampard sempat melakukan tendangan yang terlihat masuk kegawang dan melewati garis gawang, sayangnya wasit justru menilai belum melewati garis dan belum terjadi gol.

Mengenal Teknologi Garis Gawang (Goal Line Technology)

Teknologi Garis Gawang atau Goal Line Technology setidaknya memiliki tiga perangkat penting yang terhubung dengan wasit sehingga wastit bisa secara langsung mendapatkan informasi perihal bola apakah sudah masuk ke gawang atau belum.

Goal Line Technology sendiri yang dikembangkan FIFA adalah teknologi yang cukup mahal lantaran menggunakan 14 kamera yang bisa memproyeksikan gawang dalam bentuk tiga dimensi. Dimana 7 kamera akan menyorot mengambil gambar pada gawang, dan tujuh kamera lagi digawang satunya lagi.

Kamera tersebut akan menyorot pergerakan bola pada gawang dan memvisualisasikan dalam bentuk gambar 3D sehingga bola akan terlihat jelas apakah sudah masuk kegawang atau belum, hal ini biasa kita lihat di Premier League.

Sementara ada pula yang tidak terlalu mahal selain menggunakan Goal Line Technology yakni dengan GoalRef yakni menanam kabel tipis dibawah rumput disekitaran gawang. Kemudian microchip akan dipasang di dalam bola sehingga akan diketahui pergerakan bola.

Ketika bola mendekati gawang maka akan mulai menciptakan medan magnet dan ketika bola melewati garis gawang dan masuk maka selanjutnya akan mengirimkan informasi kepada receiver yang dipegang oleh wasit atau hakim garis sehingga bisa mengetahui apakah bola masuk atau belum.

Pengembangan Teknologi Garis Gawang

  1. Smart Ball System

Adidas dan Cairos Technologies mengembangkan teknologi garis gawang dengan memasang sebuah sensor pada bola dan terintegrasi dengan sensor dilapangan. Sinyal yang dikeluarkan oleh Smart Ball System langsung ditangkap oleh Hawkeye System sehingga bisa memberitahukan apakah bola sudah masuk atau belum.

  1. Hawkeye System

Teknologi Hawkeye System dikembangkan oleh perusahaan asal Inggris dengan nama Hawkeye. Teknologinya menggunakan kamera yang mampu menangkap bola hingga 600fps dan dipasang sebanyak tiga pasang pada setiap garis.

Selain kamera juga terintegrasi dengan sistem jam atau suara, maka tak heran wasit-wasit di luar negeri sering menggunakan headset untuk menangkap suara apakah bola masuk atau belum.

  1. Smart Ref System

Smart Ref System adalah sistem pemancar gelombang radio yang dikembangkan oleh Fraunhofer IIS dan sebagai pelengkap dari Smart Ball System atau Hawkeye System. Tanpa Smart Ref System maka kedua sistem tersebut tidak akan ada artinya.

Berapa Biaya Pemasangan Teknologi Garis Gawang?

Bagi persepakbolaan Indonesia memang hadirnya Teknologi Garis Gawang memang sangat diperlukan, hanya saja kemungkinan bakal terealisasi sangatlah kecil mengingat harganya yang cukup mahal.

Di liga Inggris saja setiap klub yang hendak memasang Teknologi Garis Gawang harus merogoh kocek hingga 475.000 poundsterling atau setara Rp.8,9 Miliar rupiah selama lima tahun kontrak.

Sementara di Jerman dikenakan tarif lebih mahal yakni mencapai 420.000 poundsterling atau setara Rp.7.9 Miliar dengan durasi kontrak 3 tahun saja.

Bagaimana dengan Indonesia? Nampaknya masih sangat sulit. Atau mungkin bisa memanfaatkan teknologi GoalRef yang hanya dibandrol Rp.2,5 miliar saja perstadion? Boleh dicoba lah.

Teknologi Garis Gawang Diprotes Michel Platini

Ternyata teknologi garis gawang ini juga ada yang memprotes dan tak tanggung-tanggung yang memprotes adalah mantan Presiden UEFA Michel Platini. Dirinya menganggap pertandingan sepakbola dimasa depan mungkin tidak akan menyenangkan lagi karena terlalu banyak menggunakanteknologi.

“Saya rasa tidak perlu menggunakan teknologi garis gawang itu. Karena dengan tidak menggunakannya, maka kita semua menghargai kinerja official pertandingan. Terpenting, baik para wasit, hingga asisten menerima kritikan dari para penikmat sepakbola. Dengan demikian, sepakbola tetap indah untuk kita nikmati,” ungkap pria kelahiran Prancis.

Bener juga sih, mungkin kontriversi penentuan bola apakah masuk atau tidak biarlah menjadi misteri dan menjadi sejarah yang menambah kesan mendalam bagi sebuah pertandingan sepakbola.

You May Also Like

About the Author: Yeni Irawan

"Travel Vlogger yang suka tantangan"